• About
  • Contact
  • Sitemap
  • Privacy Policy

Setali Tiga Uang

 on 11 Januari 2014  

Halte busway Nampak membisu ditengah hiruk pikuk warga Jakarta yang tergesa memacu langkah mereka. Sore telah datang mentari pun mulai samar dalam balutan awan.
“tiketnya satu mas! Kata seorang gadis muda kepada penjaga loket didalam bilik. Sekilas pandang lelaki penjaga loket tersebut terlihat mencuri keindahan dari raut wajah gadis dihadapannya.
“ini mba. Kemudian jawabnya pelan.
Aku memperhatikan gerak gadis tadi, memori otakku mencari-cari siapa gerangan dirinya. karena aku memang merasa mengenalnya. Perlahan gemulai gerak kakinya datang, semakin mendekat. Mata gadis itu nyalang berbinar kehijauan hasil dari bias cahaya matahari berbenturan dengan lensa kontak yang dia kenakan.

“Gina! Sapa ku padanya.
“Alya ?
“iya ini aku Alya.
“udah lama ya kita gak ketemu! Ungkapnya pada ku.
“iya, terakhir kita ketemu pas reunian tahun lalu.
“bener tuh. Gue kangen tau sama lo Ya! Nomer hape lo yang dulu gak aktif ?
“sorry , gin waktu itu hape gue kecopetan. Jadi semua kontak plus hapenya ilang semua deh!
“pantesan, Ternyata kecopetan. Lo juga jarang banget buka fesbuk. Gue kirim message sama nge-wall gak pernah dibales! Kayanya lo lagi sibuk banget sekarang ?
“bukannya gitu. gue lupa passwordnya gin. Pengen bikin lagi males.
“males apa gak ada waktu ? goda gina dengan seutas senyum khasnya. Yang menurut ku adalah satu-satunya hal yang belum berubah dalam dirinya. Senyum itu juga lah yang dulu menemani hari ku ketika kami masih duduk dibangku sekolah menengah pertama.

Selepas SMP aku dan gina masuk ke sekolah lanjutan yang berbeda, gina sempat mengajak ku untuk masuk ke sekolah yang sama tapi sayangnya aku keburu mendaftar di salah satu SMK Negeri. Gina yang sebelum lulus SMP telah berhasrat untuk meneruskan pendidikanya ke SMA, kemudian memuaskan hasratnya masuk ke salah satu SMA Negeri ternama dijakarta.
“eh. Bengong aja lo! Gue ajak ngomong juga malah dikacangin sial.
“hehehe. Sorry gin.
“ah bengong lo paling mikirin cowok. Atau gak jauhlah dari masalah cinta! Telisiknya sok tahu.
“sotoy lo! Jawab ku sekenanya.
“dari kapan lo pake jilbab Ya ?
“pas naik kelas 11 gin. Kenapa deh emang ?
“gak apa-apa. Tadi pas baru ngeliat lo gue pangling banget tau! Kata gina dan lagi-lagi dengan seulas senyum tersungging.
 belum sempat aku membalas perkataanya barusan, gadis berkawat gigi itu pun berkata lagi.
“tiap hari lo pake jilbab ?
aku menjawab dengan anggukan kecil.
“apa gak gerah tuh jilbaban kemana-mana ?
“kalo udah biasa sih enggak gin. Buswaynya udah dateng tuh. Nyok ah, kita naik!? Seru ku pada gina.
“lo tau darimana kalo gue mau balik ? Tanya gina sambil berjalan menuju bus transjakarta.
“ada deh. Mau tau aja apa mau tau banget ? ledek ku sembari memasuki bus transjakarta terlebih
dulu.
            Di dalam bus kami berdua pun tak hentinya berbicara. Obrolan-obrolan masa sekolah dulu seakan menjadi tajuk utama dalam perbincangan ini.
“lo sekarang kuliah apa kerja ? Tanya ku ringan.
“gue kuliah Ya. Kalo lo sendiri ?
“gue kerja gin. jadi Spg event, palingan kalo lagi gak ada event gue dirumah aja.
“gue minta pin BB lo dong Ya! Biar kita bisa nyambung lagi kaya dulu.
sepintas kemudian aku pun mendiktekan sejumlah nomor dan angka kepada gina.
“gue invite nih! kata gina dengan penuh semangat.
“oke. Diterima! Sambungku setelah menerima invitation BBm gina.
ketika turun dari bus, kami pun berpisah gina berbalik arah menuju persimpangan gang rumahnya.
“gue duluan yah!
“oh iya. Jangan lupa BM gue! Bye.
“sip! Bye. Singkat ku dengan tersenyum.
memang jarak rumah ku dan rumah gina tidak terlalu jauh, Hanya terpisah kelurahan saja tapi
kenyataanya kami tak pernah bertemu selepas reuni tahun lalu tersebut. Lagipula hal itu tak terlalu penting buat ku.
            Tiga hari berselang semenjak perjumpaan dengan gina. Banyak cerita telah kami curahkan via BBm, meski sebatas messenger namun setidaknya itu cukup untuk menyatukan lagi tali silaturahim kami yang sempat menghilang.
Malam baru saja datang, rembulan pun Nampak samar mengintip dari balik awan tipis.
aku masih melamun, terpekur diberanda rumah. Entah apa yang ku pikirkan untuk seperempat jam lalu pikiran ku itu terbang kemanapun dia mau. Masa lalu dan masa depan hal tersebut lah yang membuat dia terbang.
lamunan ku berakhir di saat ayah membuka gerbang yang berdecit karena aus.
“assalamualaikum.
“walaikummsalam. Aku menjawabnya dengan datar.
“ngelamun aja! Jawab salam tuh yang bener! Timpal ayahku membenarkan.
“itu juga udah bener yah!
ayah tak menjawab dengan jelas, hanya menggelengkan kepalanya lalu masuk ke dalam rumah.
Di waktu yang sama di tempat yang berbeda.
“gin, entar malem jadi gak ? Tanya seorang gadis dengan rambut bergelombang kepada gina.
“jadilah! Entar malem kan ladies night. gak mau ketinggalan gue! Jawabnya penuh percaya diri.
“oke. Berarti jam sebelas kita jalan. Buat ongkos taksi entar gue pinjem duit lo dulu yah ? balas sepupunya itu.
“ngapain naik taksi. Tadi gue udah telepon Aldo, dia nanti kesini. Kita bareng dia berangkatnya!
“emhh, bagus deh kalo gitu. Nah terus pulangnya ? sambil tertawa pelan gadis tersebut kembali bertanya.
“ya. Pulangnya kita bareng si aldo lagi lah! Pungkas gina secara singkat.
            “Kamu gak makan ? Tanya perempuan paruh baya kepada gadis dihadapanya. Lantas perempuan muda itu pun menjawab.
“ini aku mau beli nasi goreng, bu!
“lah kenapa beli nasi goreng ? kan masih ada lauk ! kata si ibu sedikit heran.
“gak apa-apa bu. Aku Cuma lagi pengen makan nasi goreng aja kok’. Jawab Alya menolak.
“terserah kamu aja deh. Tandas si ibu kembali sambil berlalu untuk kemudian duduk didepan meja Tv.
“yaudah. alya kedepan dulu beli nasi goreng!
“eh, kok’ gak pake jilbab Ya ?
“yailah bu, masa kedepan situ doang pake jilbab sih ! sergah Alya tak acuh.
“Alya ! ini anak diingetin malah protes. Tentu saja kalimat si ibu kandung yang terakhir tadi tidak didengar oleh telinga anak gadisnya. Karena si anak telah ngeloyor keluar rumah tanpa mengindahkannya.
            Dentuman musik elektronik bergemuruh menghipnotis para manusia dilantai dansa. Malam benar-benar telah larut, tapi pesta kaum urban ini jauh dari kata usai.
seorang disc jockey dengan khusyuknya memainkan peran sebagai peramu beat-beat menghentak, berirama cepat. Selaras dengan itu kepala sang Dj pun tak hentinya bergeleng kiri dan kanan sambil sesekali membenarkan letak earphone ditelinganya.
            Di lantai dansa, gina dan sepupunya juga rajin bergoyang tanpa arah. Tak jarang tubuh mereka bersinggungan satu sama lain. Keadaan ini maklum adanya ketika manusia-manusia penggila pesta tersebut menari-nari mengikuti irama dilantai glamor khusus dansa.
kerlip gemerlapan dari lampu disko yang khas makin menambah kesakralan tempat itu sendiri.
“minum dulu nyok ! ajak gina kesepupu perempuanya.
“apa ? balas gadis muda sepupunya sambil mendekatkan telinga kearah gina.
“minum dulu. Haus gue ! suaranya terdengar agak meninggi.
“oh yaudah lo duluan deh nanti gue nyusul ! sambut lawan bicara gina tak berminat.
gina pun selanjutnya berjalan menjauh dari kerumunan penari amatir yang banyak berada disana.
sambil tak lupa menggelengkan kepalanya kesana kemari. Sebelum sampai ke meja bar, smartphonenya menerima pesan dari aldo. Selepas membaca isi pesan tadi gadis belia itu seakan mengikuti anjuran yang tertera didalam pesan barusan.
“lo open table, do ? gina berbasa-basi sebisanya.
“iya, gin! Makanya gue tadi BBm lo. Buat ngajak gabung! Sambut aldo meyakinkan.
“kenapa gak bilang daritadi ? celoteh gina sembari menaruh bokong nya diatas kursi untuk duduk.
“tadi gak kepikiran gin, niatnya kan gue Cuma bentar kemari.
“berarti sekarang lo mulai betah ya disini !? sambung gadis belia bergincu merah coba cairkan suasana.
“hehe. Iya, emang ladies night itu selalu bikin gue betah! By the way sarah mana?
“ini baru aja gue BBm, do. Tadi dia masih ditengah udah gue ajak tapi gak mau!
“oh gue kira dia diciduk om-om. Hehe! Habis gak keliatan sih. Pria muda itu pun terkekeh menahan geli yang memang dia ciptakan sendiri.
“nongol juga nih, perempuan. Kata aldo kembali beberapa saat setelah Sarah tiba.
“lo gak jadi ke fatmawati do? Jawab sarah menimpali.
“gak. Temen gue udah pada balik, jadi gue kesini aja.
“oh baguslah kalo gitu, jadi ada yang traktir. Hehe! Ungkap sarah dengan menghembuskan asap rokok sesudahnya.
“bisa aja lo. Singkat aldo pendek.
“rokok nih gin! Tawar sarah, sambil menggeser sebungkus rokok plus koreknya kearah gina.
“pantesan. Daritadi gue nyariin rokok gue kemana! Sial gak taunya sama lo. Maki gina dengan sebal.
lalu disulutnya lintingan tembakau berfilter tersebut, disesapnya asap putih itu kuat-kuat untuk kemudian dikeluarkan melalui celah bibir berpoles warna merah yang menggoda.
“mas! Panggil aldo pada pramusaji yang mendatanginya dengan antusias.
“saya pesen Johnny walker botol kecil satu. Terus...lo pada mau minum apa? Sambung Aldo sembari melirik kedua wanita diseberang meja.
“gue Heineken aja deh. Tandas gina merespon ajakan tersebut.
“kalo gue samain aja kaya gina! Sarah pun kemudian ikut menjawab dengan menggunakan intonasi yang seakan tak peduli.
            Menjauh dari cahaya yang bergemerlapan, namun masih dalam lingkup ibukota.
aku mencoba merenggangkan persendian tubuhku yang serasa kaku. Dan kini aku pun siap menuju alam mimpi yang diawali dengan memejamkan kedua kelopak mata ini secara bersamaan.
hampir delapan jam terlelap suara alarm yang semalam ku setel pada blackberry itu pun mengembalikan kesadaran ku. Mentari nampak genit mengintip seolah malu-malu menampakan sinarnya, maklum saja karena sekarang baru pukul enam kurang seperempat. Sudah sewajarnya mentari bertingkah seperti itu.
aku bergerak landai keluar kamar, setelah sebelumnya mengambil handuk yang tergantung pada dinding kamar tidur. Terlihat dengan samar ibu tengah menyiapkan sarapan didapur, dan aku berjalan melewatinya untuk menuju kamar mandi.
dari balik pintu kamar mandi ku dengar ibu berkata.
“sarapannya dimeja! Ibu pengen kewarung dulu.
“iya, bu. Jawabku tertahan karena sikat gigi dan pastanya memenuhi rongga mulutku.
selesai mandi dan berpakaian aku menuju meja makan. Nasi goreng telur dadar buatan ibu dengan lahap kusantap. Setelahnya aku segera beranjak dari rumah untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang Sales Promotion Girl sebuah produk obat kumur ternama.
            Siang mulai terik selimut karbon diudara pun ikut memayungi ibukota.
gina masih terlelap ditempat tidur, rambut panjangnya terurai aut-autan. Entah sampai kapan gadis tersebut akan terlelap, meski matahari telah mejeng dengan garangnya diatas langit.
sinarnya pun menelusup dari sela tirai jendela yang belum sempat disibakan oleh pemiliknya.
ketukan bertubi-tubi pada daun pintu perlahan memulihkan kesadaran gina dari alam mimpi.
“kenapa? Gue masih mau tidur! Teriak gina yang masih enggan membuka matanya.
“buka dulu pintunya! Pinta gadis dibalik pintu kamar.
“ah elah. Ribet lo! Jawab gina merasa terusik, walaupun dia pada akhirnya bangun dan membukakan pintu.
“lo jam segini masih tidur aja.
“semalam kan kita pulang pagi, jadi wajarlah! Sergah gina dengan cuek.
“gak, segitunya juga kali gin. Sahut lawan bicaranya kembali.
“biarin, aja! Sekarang lo mau ngapain tengah hari bolong gini kerumah gue!? Tanya gina pada sepupu perempuannya tersebut.
“ sensi banget non. Lagi dapet ya? Kelakar sarah disertai seringai menggoda.
 “emang! balas gina dengan ketus.
“pantesan jutek. Gin, entar sore temen gue ngadain acara di fatmawati, lo mau ikut gak?
“gratisan kan? Soalnya duit gue tinggal 300 ribu!
“woles, sis! Ini gratis kok’. Temen gue ultah terus ngadain acara disana, entar ongkos taksi gue yang bayar deh. Terang sarah padanya.
tanpa berpikir lebih lanjut gina menjawab “yaudah gue ikut.
“kalo ikut, sana buruan mandi!
“iya bawel! Ini juga gue mau mandi. Gina kemudian berpaling keluar kamar untuk membersihkan tubuh dan sisa peluh semalam.
kehidupan gadis tersebut seakan penuh dengan kemeriahan pesta, apalagi saat weekend seperti sekarang. Senin hingga Jumat kehidupan gina berubah menjadi hal abu-abu, mulai dari dosen yang kolot, sampai tugas kuliah yang semua terasa membebani dirinya. tak jarang dia pun kerap bolos kuliah demi meghindari hal abu-abu yang perempuan itu anggap sebagai kerancuan semata.
            Setali tiga uang dengan itu, sarah yang merupakan sepupu gina. Adalah seorang perempuan diambang dewasa, namun usianya tak menjadi patokan kedewasaan. Mahasiswi jurusan ekonomi ini telah dua kali mendapat ancaman drop out dari kampus, karena sering tidak masuk kuliah. Ancaman tersebut seolah tak punya arti baginya.
sarah pun kemudian mengambil alternatif untuk menyiasatinya, yaitu mengambil cuti selama satu semester penuh tanpa terbersit dampak yang akan ditimbulkan terhadap dirinya. Sarah perempuan muda yang tengah terbuai dunia hura-hura, masa muda hanyalah soal kesenangan saja menurutnya. Dan siap mengantarkan huru-hara dalam hidupnya tanpa dia sadari kelak.
perilaku sarah yang tercermin dalam diri gina adalah buah dari pengendalian diri gina yang lemah. Begitu mudahnya pengaruh negatif sarah bergerilya, memasuki pikirannya.
figur sang mama yang dapat memberi perhatian lebih kepadanya telah meninggalkan gina. Figur bijak itu kini hanya menyisakan nisan serta kenangan yang menjadi satu dalam bunga tidur ketika dia terlelap.
sementara itu orang tua gina yang lain memilih untuk menikah siri, sepeninggal istrinya.
mungkin kebutuhan dasar lelaki tersebut sulit terbendung dan memberi sinyal untuk beristri lagi. Sah-sah saja memang tapi apa akan membawa perubahan yang positif bagi keluarganya setelah itu, hal tersebutlah yang belum terlihat kini.
            Mega berubah warna, mendung menyeruak masuk menghalangi matahari untuk menyinari. Kumandang adzan ashar berseru menandakan sore yang hadir kembali.
perempuan muda berhijab kuning terang berjalan bersama pejalan kaki lain diatas trotoar. Gelegar Guntur mempercepat langkah kakinya lalu dengan cekatan kedua kaki tersebut mengantarkannya menyebrang kearah sebuah mini market.
“Aku hanya membeli beberapa makanan ringan dan minuman kaleng di mini market itu.
ku tatap jam tangan sambil menunggu giliran membayar.
sehabis membayar, aku meninggalkan kasir lalu keluar dan berhenti sejenak di pelataran mini market untuk menelepon Andi adik ku.
“hallo, ndi dimana?
“dirumah. Kenapa? Tanya adik ku.
“jemput gue ya! Didepan indomart. Kata ku menegaskan.
“iya. Tunggu bentar.
           Lima belas menit kemudian andi datang dengan motor bebek yang suara knalpotnya membuat telinga jengah.
“lah, ngapain parkir motor? Tangkap ku sedikit heran.
“mau beli sabun muka dulu mba! Aku sudah paham akal bulus siswa kelas dua smk yang satu ini, kalau ada maunya pasti berlaku sopan.
“lagu lama. Nih! aku menjawab sembari mengeluarkan uang lima puluh ribuan dari dompet.
“hehehe, makasih! Bentar ya mba aku kedalam dulu! Katanya dengan mimik muka yang tak karuan, senang, salah tingkah, malu atau apalah. Dasar ababil pikir ku tak mau ambil pusing.
ketika sampai dirumah langit yang pucat telah menjatuhkan rintik gerimis.
untunglah udah nyampe, aku berkata dalam hati. Kilatan gledek makin jelas terlihat diluar bersamaan dengan dentumannya yang membahana.
            Jam dinding menunjukan pukul dua puluh lewat seperempat gina dan sarah Nampak menikmati obrolan kecil diruang tamu. Seraya sesekali mengeluarkan gelak cekikikan dari bibir tipis berbalut lipstick tersebut.
“oh iya, gin. Kemarin Aline BBm gue nanti dia main dikemang terus ngajak gue buat dateng ke situ. Katanya sih dia baru ngeremix lagu baru!
“bukannya aline lagi di bali?
“udah balik dia dari hari kamis kemarin.
“berarti jam sebelas kita jalan, gimana?
“sipp!
 “Tapi kok’ lo mendadak getol ya? Padahal tadi sore bilang duit lo nyekak.
“hehe. Secara aline kan nge’Dj di situ, pastilah free masuknya! Tawa gina yang semakin mencairkan suasana.
“siapa tau, dia juga beli oleh-oleh buat kita. Tambahnya lagi.
“anjrit! Ngarep banget lo, sis. Pungkas sarah membalas.
“sarah, lo inget sama alya ga? Temen gue waktu Smp dulu.
“alya yang mana? Sarah bertanya dengan memicingkan mata mencoba mengingat nama tersebut.
“itu loh, alya yang dulu rambutnya berponi kaya Dora! Terang gina pada sepupunya.
“hehe. Parah lo masa kaya dora sih! Temennya monyet dong berarti. Iya gue inget, emang ada apa gin sama dia?
“tadi dia telepon gue, pengen main kesini katanya.
“oh gitu. Kalo si alya mau, kita ajak aja sekalian gin, biar tambah rame!
“iya, kalo dia mau. bentar lagi juga orangnya datang kok’.
“Assalamualaikum, suara perempuan terdengar dari arah pintu.
“panjang umur nih orang! Baru di omongin udah nongol. Perkataan gina tak disambut oleh sarah yang tengah sibuk menatap Blackberrynya.
“eh, lo ya. Ayo masuk!
“iya. Balas ku dan mengikuti gina masuk kedalam rumah. Mendapati sarah yang sudah berada di ruang tamu aku pun tak lantas heran karena memang, gina telah banyak berkisah perihal kehidupannya yang sekarang. Walaupun itu hanya curhat sekedarnya via BBm.
“mau minum apa lo?
“apa aja deh gin. Aku menjawabnya dengan ditambah sedikit senyum.
“ok, bentar ya! Lo duduk aja dulu sekalian ngobrol sama sarah sepupu gue. Masih inget kan?
kedua mata kami berpandangan untuk sesaat, lalu gina pun menoleh kearah sarah.
“udah bikin minum dulu sana, ngemeng mulu lo! Potong sarah sedikit mengejek.
“iya, iya! Kata gina kembali sebelum berjalan menuju dapur.
“lo sekarang pake jilbab ya?
“ya, kaya yang lo liat sekarang. Pertanyaan sarah barusan sukses membuat ku tersipu.
“oh, tapi emang pantes sih Ya lo pake jilbab. Setau gue kan pas Smp lo belum jilbaban!?
“emang belum, gue pake jilbab pas lulus Smp itu juga cuma sekedar coba-coba awalnya.
“lo sekarang sibuk apa, sar? Aku balik bertanya.
“gue kuliah. Tapi untuk satu semester ini gue ambil cuti!
            Sejurus kemudian gina kembali bersama nampan yang berisi gelas dengan minuman berwarna cerah.
“thanks, gin! Jadi direpotin nih gara-gara gue. Singkat ku sambil tersenyum.
“Cuma air kok’. Tandas perempuan tersebut menjawab.
“oh iya, lo besok masuk kerja ga?
“besok gue Off gin, kenapa?
“kebetulan, nanti gue mau ajak lo main ke kemang! Kata gina lagi meneruskan.
“ngapain deh kesana? Tangkap ku dengan raut wajah datar khas orang yang pura-pura bodoh.
“temen gue nge’Dj disana. Dan kebetulan juga dia owner klub itu. Dengan lugas dan ekspresif gina memaparkan secara detail keinginannya.
aku sempat terdiam memikirkan ajakan tersebut, hanya beberapa detik memang.
“acaranya jam berapa? Tanya ku segera.
“kalo lo mau nanti jam sebelas kita jalan!
Diriku paham apa yang akan ku jalani malam ini, aku pun kembali berpikir. sepengetahuan ku acara di klub malam seperti itu urung bubar jika belum memasuki waktu subuh.
masalahnya aku tak pernah pulang pagi, pulang kerumah lewat dari pukul sebelas malam saja diceramahi apalagi pagi. Aku menarik nafas sebentar. Disisi lain dalam diriku seakan berteriak dan setuju dengan ajakan gina. Keinginan mencicipi pengalaman dalam hidup bagai cendawan yang bersemi tanpa diharapkan tumbuh, sekali seumur hidup, rasa penasaran yang menggugah emosi semua jadi satu diruas tempurung kepala.
seperti dapat membaca konflik batin yang ku alami gina pun berkata.
 “hey gimana? Gak usah bingung gitu Ya! Kalo gak bisa ikut gak apa-apa kok’. Senyum simpul tersematkan pada bibir tipis gina sesudahnya.
“iya, gue ikut.
seolah pergolakan batin itu telah sirna, aku pun akhirnya meng-iyakan.
“sekali seumur hidup! Kata ku dalam hati mencoba menekan gejolak batin yang mendera.
aku bisa saja menolak dengan dalih tak boleh keluar malam atas himbauan orangtua ku. Tapi apa kata mereka ? aku bisa dibilang cupu lah sampai-sampai mereka akan melebeli diriku dengan ucapan anak mami.
             Semilir angin membuat udara malam bertambah dingin, bersama sejumlah bintang yang bertaburan. ketiga perempuan muda tengah bersiap menuju lantai dansa, dua diantara mereka sibuk bersolek seakan telah menjadi sebuah keharusan. Seorang gadis lagi Nampak kikuk dilanda perang batin yang belum hilang.

“lo gak dandan, ya? Kenapa masih bingung?
“enggak, gue Cuma lagi mikirin aja masa ke klub pake baju kaya gini!?
“aduh, alya kenapa gak bilang daritadi! Yaudah lo siap-siap dulu kalo lo mau pake bedak minta aja sama sarah. Gue ambilin setelan dulu buat lo.
Perlahan aku tanggalkan jibab, yang membungkus kepala dan sebagian leher itu. Lalu kulipat sedemikan rupa. Plastik sebagai penyanggahnya pun ku letakan diatas meja.
gina kembali ke ruang tamu, sekilas dia terlihat membawa setelan yang akan dipinjamkan padaku. Ku kira awalnya setelan yang diberikan gina tersebut adalah pakaian atas-bawah, tetapi aku salah, karena nyatanya gina membawakan pakaian semi-dress berwarna hitam padaku.
“lo pake ini aja! Lebih matching kalo lo pake. Katanya sembari merentangkan pakaian itu dihadapan ku.
“rambut lo masih aja kaya dulu Ya! Sambar sarah berkomentar atas rambut ku yang berponi aneh dan kelihatan rada ikal dibagian belakang.
“nih lo pake dulu dressnya. Sela gina dengan menyodorkan dress tadi.
Beberapa saat kemudian aku kembali sehabis menyalin pakaian. Belahan dada dress milik gina ini cukup rendah, aku yang tak biasa memakai dress seeperti itu risih dibuatnya.
meski sudah ku naikan keatas berkali-kali tetap saja potongan rendah pada dada tersebut melorot kembali.
“kenapa ditarik-tarik Ya? Gak nyaman?
“iya, gin. Rendah banget potongannya.
“lilitin aja jilbab lo dileher anggep aja syal atau pasmina! Nah kaya gitu kan jadi ketutup belahannya. Usul sarah menambahkan, dan ironisnya aku pun mengikuti usulan tersebut.
“oke, gitu kan beres! Yuk kita berangkat udah jam sebelas nih. celoteh sarah kembali, diiringi dengan langkah kaki ku serta gina mengikutinya keluar rumah. Dari sana kami berjalan kedepan gang untuk menunggu taksi.
               Bila masih mungkin aku diberi pilihan, ingin ku ingkari ajakan gina. Namun rasa penasaran ku keburu berkehendak. Kepalang tanggung menjadi solusi penyelesaian bagi ku dan logika pun memberi pembenaran atas apa yang ku lakukan. Meski jauh di lubuk hati harapan akan kesempurnaan berhijab terpatri. Hanya terpatri begitu saja tanpa ada barometer kapan waktunya tiba. Jika nanti kesempatan itu datang bukan fisik yang harus ku hijab pertama kali dan bukan pula hijab munafik demi menutupi kesenjangan ragawi, melainkan hijab hakiki dari hati.
tanpa ada campur tangan emosi.
               Jelas terlihat gina tengah menyetop taksi, kemudian kami bertiga masuk, sarah duduk dimuka serta aku dan gina di kursi belakang.
ku pandang sekilas benda berwarna cerah yang melilit dengan anggun di leherku.
lalu taksi yang kami tumpangi pun meluncur kearah kemang.

Setali Tiga Uang 4.5 5 DanD 11 Januari 2014 Halte busway Nampak membisu ditengah hiruk pikuk warga Jakarta yang tergesa memacu langkah mereka. Sore telah datang mentari pun mulai sam...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pembaca yang bijak selalu meninggalkan jejak dengan berkomentar.
REGARDS

Terima Kasih Telah Datang

J-Theme